Tibasaatnya untuk pembahasan rancangan perdes ini secara pleno untuk dapat menjadi sebuah perdes yang kemudian akan disahkan oleh pemerintah desa, setelah melalui proses pembahasan dimasing-masing pihak yang terlibat dalam pembuatan perdes tentang penanggulangan bencana ini. Pembahasan penetapan Peraturan Desa tentang Penanggulangan Bencana
25 Questions By Catherinehalcomb Updated Mar 22, 2022 Attempts 237 Share Settings Feedback During the Quiz End of Quiz . 1. Peraturan dibuat untuk .... A. Dilanggar B. Dijauhi C. Ditaati D. Diacuhkan 2. Peraturan yang dibuat oleh pemerintah diantaranya bertujuan untuk .... A. Menjaga keamanan dan ketentraman di masyarakat B. Menjaga kekuasaan dan kewibawaan pemerintah C. Mengendalikan kekuatan politik agar tidak didemo D. Menakut-nakuti masyarakat dengan hukuman 3. Negara Indonesia adalah negara hukum, yaitu negara yang .... A. Berdasarkan kedaulatan rakyat B. Berdasarkan hukum yang ditetapkan pemerintah C. Berdasarkan perintah penguasa D. Berdasarkan atas kekuasaan pemerintah 4. Hal-hal berikut ini yang bisa terjadi ketika tidak adanya sebuah peraturan, kecuali .... A. Kacau B. Tertib C. Tidak aman D. Tidak tertib 5. Peraturan tertulis yang dibuat oleh lembaga negara yang berwenang disebut .... A. Norma Adat B. Peraturan Perundang-Undangan C. Peraturan sekolah D. Dasar Negara 6. Tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang paling tinggi adalah .... A. Undang-Undang B. UUD 1945 C. Perpu D. Perda 7. Peraturan Perundang-Undangan yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama Kepala Daerah dinamakan .... A. Perpu B. Perpres C. Perda D. UU 8. Undang-Undang UU adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat DPR dengan persetujuan .... A. Gubernur B. MPR C. KPK D. Presiden 9. Berikut ini yang tidak termasuk kepala daerah adalah .... A. Menteri B. Gubernur C. Bupati D. Walikota 10. Peraturan Perundang-Undangan harus dipatuhi oleh .... A. Presiden B. Mayarakat kecil C. Pejabat daerah D. Semua warga negara 11. DPD bisa mengajukan RUU kepada DPR khusus mengenai .... A. Keuangan B. Otonomi daerah C. Pimpinan daerah D. Hukum daerah 12. Pembahasan RUU dilakukan oleh DPR bersama Presiden atau bersama dengan .... A. Anggota DPR B. Menteri yang ditugasi mewakili Presiden C. Anggota KPK yang ditugasi Presiden D. Mahkamah Konstitusi 13. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Perpu ditetapkan oleh Presiden dalam keadaan .... A. Damai dan aman B. Menjelang perang C. Menjelang Akhir tahun D. Genting dan memaksa 14. Berikut ini yang tidak termasuk peraturan perundang-undangan adalah .... A. Perda B. UUD 1945 C. Peraturan sekolah D. . Perpu 15. UU No. 32 Tahun 2004 adalah tentang .... A. Pemerintahan Daerah B. Pemerintah pusat C. Pemerintah Ibukota D. Pemerintah Sementara 16. Peraturan perundang-undangan dapar berupa .... A. Ajakan dan penolakan B. Perintah dan ajakan C. Perintah dan larangan D. Larangan dan hadiah 17. Salah satu penyebab terjadinya banyak kejahatan dimasyarakat adalah .... A. Pemerintahan yang longgar B. Rakyat yang berkuasa C. Lemahnya penegakan peraturan D. Kurangnya perhatian masyarakat 18. Bersedia menjalankan perintah dari orang tua adalah contoh pelaksanaan peraturan tata tertib di lingkungan .... A. Negara B. Keluarga C. Sekolah D. Pribadi 19. Sebuah Peraturan Daerah Perda berlaku di .... A. Seluruh negara B. Semua provinsi C. Semua kabupaten D. Daerah tertentu saja 20. Negara Indonesia adalah negara .... A. Liberal B. Komunis C. Hukum D. Bebas 21. Peraturan daerah kabupaten dibuat oleh DPRD kabupaten bersama dengan .... A. Bupati B. Walikota C. DPR Pusat D. DPD 22. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan dengan tenang, tertib, dan lancar apabila siswa-siswanya.... A. Mau bercerita sendiri-sendiri B. Bermain bersenang-senang di kelas C. Mempunyai persyaratan sendiri D. Mau menaati dan melaksanakan semua peraturan 23. Dengan menaati peraturan-peraturan perundangan berarti kita telah menjadi .... A. Anggota DPR B. Warga negara yang baik C. Pengawas perundangan D. Calon pejabat daerah 24. Contoh pemberian hukuman karena melanggar undang-undang adalah .... A. Mendapat hadiah B. Dimasukkan ke rumah sakit C. Dimasukkan ke penjara D. Diberi penghargaan 25. Peraturan Desa Perdes, dibuat oleh Badan Permusyawaratan Desa BPD bersama dengan .... A. Ketua RT B. Ketua RW C. Kepala desa D. Masyarakat desa Back to top Back to top
Programyang dibuat pemerintah tersebut bertujuan untuk dapat menghasilkan capaian atas pendapatan nasional, produksi serta perekonomian dan digunakan pula sebagai perangkat keseimbangan di perekonomian negara atau kerajaan tersebut. Kebijakan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah untuk dapat mengelola serta mengatur anggaran dengan cara
- Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh presiden untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. Dalam hierarki peraturan perundang-undangan Indonesia, Peraturan Pemerintah terletak di bawah Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang dan di atas Peraturan peraturan perundang-undangan menurut UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 15 Tahun 2019, yakni UUD 1945; Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Tap MPR; Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Perppu; Peraturan Pemerintah; Peraturan Presiden; Peraturan Daerah Provinsi; dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Kewenangan membuat Peraturan Pemerintah diberikan oleh UUD 1945 kepada presiden. Dasar hukum penetapan Peraturan Pemerintah adalah Pasal 5 Ayat 2 UUD 1945 yang berbunyi, âPresiden menetapkan Peraturan Pemerintah untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya.â Baca juga Menaker Libatkan Buruh dan Pengusaha Susun Rancangan Peraturan Pemerintah Fungsi Peraturan Pemerintah dan materi muatannya Peraturan Pemerintah merupakan peraturan yang bersifat administratiefrechtelijk karena tidak boleh mengatur atau menciptakan kaidah ini tidak boleh menciptakan suatu wewenang kecuali yang telah diatur dalam undang-undang. Dapat dikatakan, fungsi Peraturan Pemerintah adalah sebagai instrumen untuk mengadakan pengaturan lebih lanjut untuk melaksanakan undang-undang. Peraturan ini ditetapkan untuk melaksanakan perintah undang-undang atau untuk menjalankan undang-undang sepanjang diperlukan dengan tidak menyimpang dari materi yang diatur dalam undang-undang yang bersangkutan. Muatan Peraturan Pemerintah pun berisi materi untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya. Contoh Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah memiliki norma hukum yang kekuatan mengikatnya berada tepat di bawah undang-undang. Beberapa contoh Peraturan Pemerintah di antaranya PP Nomor 8 Tahun 2022 tentang Koordinasi Penyelenggaraan Ibadah Haji, PP Nomor 13 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Keamanan, Keselamatan, dan Penegakan Hukum di Wilayah Perairan Indonesia dan Wilayah Yurisdiksi Indonesia, PP Nomor 12 Tahun 2022 tentang Forum Koordinasi Pimpinan di Daerah, PP Nomor 1 Tahun 2022 tentang Register Nasional dan Pelestarian Cagar Budaya, PP Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perlakuan Perpajakan untuk Mendukung Kemudahan Berusaha, PP Nomor 87 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, PP Nomor 59 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, PP Nomor 3 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara, PP Nomor 7 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan, PP Nomor 2 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial, PP Nomor 31 Tahun 2013 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. Referensi Mujiburohman, Dian Aries. 2019. Pengantar Hukum Tata Negara. Sleman STPN Press. UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 15 Tahun 2019 Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Peraturanpemerintah adalah peraturan hukum atau keputusan hukum yang dibuat oleh Pemerintah (eksekutif) untuk melaksanakan undang-undang agar berlaku secara riil dan mempunyai kekuatan hukum mengikat terhadap masyarakat. e. Peraturan Daerah (Pasal 18 ayat (6) UUD 1945) 1. Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Berdasarkan UUD 1945 setelah amandemen bentuk-bentuk atau macam-macam Peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Pemerintah Eksekutif, Legislative DPR, dan MPR serta Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut a. Undang-Undang Dasar Pasal 3 UUD 1945 Menurut Pasal 3 Undang-Undang Dasar 1945, MPR mempunyai kekuasaan menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar. Kekuasaan MPR ini menurut penulis juga termasuk atau identik dengan membuat Undang-Undang Dasar. Undang-Undang Dasar adalah Konstitusi negara yang tertulis, sebagai hukum dasar yang tertinggi dalam suatu negara. Undang-Undang Dasar merupakan hukum dasar yang tertinggi atau sebagai dasar hukum yang tertinggi bagi peraturan perundang-undangan di bawahnya. Dengan demikian peraturan perundang-undangan dibawahnya tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. b. Undang-undang Pasal 5 ayat 1 jo Pasal 20 ayat 2 UUD 1945 Undang-undang adalah peraturan hukum atau keputusan hukum yang dibuat oleh Eksekutif pemerintah bersama-sama dengan parlemen atau legislatif DPR untuk melaksanakan dan menjabarkan aturan-aturan yang diatur dalam UUD. Undang-undang ini sebagai pelaksana UUD. c. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Pasal 22 ayat 1 UUD 1945 Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang Perpu adalah Peraturan Pemerintah yang dibuat oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa sebagai pengganti undang-undang. Kedudukan Perpu sederajat dengan UU. Perpu dibuat oleh Presiden karena keadaan kegentingan yang memaksa yang memerlukan tindakan cepat dalam waktu singkat. Selain itu juga bertujuan untuk mengisi kekosongan hukum undang-undang. Misal negara dalam keadaan darurat atau bahaya dan belum ada undang-undang yang mengatur untuk mengatasi keadaan darurat tersebut. Setelah keadaan darurat atau kegentingan yang memaksa berakhir, Perpu harus diajukan ke DPR untuk mendapatkan persetujuan DPR. Apabila Perpu masih dianggap perlu oleh DPR untuk kepentingan masyarakat, maka Perpu kemudian ditetapkan sebagai undang-undang, tetapi apabila tidak diperlukan atau bertentangan dengan UUD maka perpu dinyatakan tidak berlaku atau harus dicabut oleh Presiden. d. Peraturan Pemerintah Pasal 5 ayat 2 UUD 1945 Peraturan pemerintah adalah peraturan hukum atau keputusan hukum yang dibuat oleh Pemerintah eksekutif untuk melaksanakan undang-undang agar berlaku secara riil dan mempunyai kekuatan hukum mengikat terhadap masyarakat. e. Peraturan Daerah Pasal 18 ayat 6 UUD 1945 Peraturan Daerah adalah peraturan hukum atau keputusan hukum yang dibuat oleh Pemerintah Daerah bersama dengan DPRD untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan di daerah. Peraturan daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 2. Menurut Ketetapan MPR Walaupun lembaga MPR menurut UUD 1945 sebelum amandemen tidak mempunyai kewenangan untuk membuat peraturan perundang-undangan kecuali GBHN tetapi dalam praktek ketatanegaraan Republik Indonesia. MPRS/ MPR pernah membuat produk perundang-undangan dengan nama Ketetapan MPR, diantaranya adalah Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966. Ketetapan MPR No. XX/MPRS/1966 mengatur urut-urutan Peraturan Perundang-undangan sebagai berikut Undang-Undang Dasar RI 1945; Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang; Peraturan Pemerintah; Keputusan Presiden; Peraturan-peraturan pelaksana lainnya seperti peraturan menteri; instruksi menteri; dll. Tata urutan hierarki Peraturan Perundang-undangan dalam Ketetapan MPR No. XX/MPRS/1966 kedudukannya tidak dapat diubah. Tata urutan tersebut menunjukkan tingkat kedudukan atau tinggi rendahnya peraturan perundang-undangan. Artinya peraturan-pearuran di bawahnya tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di atasnya. Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 sampai pada tahun 1973 berlakunya tetap dipertahankan dengan ditetapkannya Ketetapan MPR No. V/MPR/1973 tentang Tata Urutan Peraturan Perundangan Ketetapan MPR No. V/MPR/1973 keberlakuannya masih dipertahankan oleh MPR dengan ditetapkannya menjadi Ketetapan MPR Setelah tahun 2000 Ketetapan MPR No. IX/MPR/1978 dinyatakan tidak berlaku atau dicabut dengan diberlakukannya Ketetapan MPR No. III/MPR/2000. Setelah reformasi, maka pada tahun 2000, MPR menetapkan Ketetapan MPR RI No. III/MPR/2000 tentang Sumber hukum dan Tata Urut-urutan peraturan perundang-undangan. Menurut Pasal 2 Ketetapan MPR RI No. III/MPR/2000 disebutkan bahwa, Tata Urut-urutan Peraturan Perundang-undangan RI adalah sebagai berikut Undang-Undang Dasar RI 1945; Ketetapan MPR-RI; Undang-Undang; Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang Perpu; Peraturan Pemerintah; Keputusan Presiden; Peraturan Daerah. Kelemahan Ketetapan MPR tersebut karena menempatkan Perpu di bawah undang-undang. Masalahnya menurut pasal 22 UUD 1945 Perpu adalah sebagai pengganti undang-undang dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa dan kedudukannya sederajat dengan Undang-undang. 3. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 Karena kelemahan Ketetapan MPR No. III/MPR RI/2000 yang menempatkan Perpu di bawah Undang-undang, kemudian pada tahun 2004 Pemerintah bersama DPR mengeluarkan UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Menurut pasal 7 ayat 1 UU No. 10 Tahun 2004 jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut Undang-Undang Dasar 1945; Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang; Peraturan Pemerintah; Peraturan Presiden; Peraturan Daerah; Selanjutnya di dalam ayat 2 disebutkan, Peraturan Daerah meliputi Peraturan Daerah Propinsi yang dibuat oleh DPRD Propinsi bersama dengan Gubernur. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota dibuat oleh DPRD Kabupaten/Kota bersama dengan Bupati/Walikota. Peraturan Desa/Peraturan yang setingkat dibuat oleh Badan Perwakilan Desa atau nama lainnya bersama dengan Kepala Desa/nama lainnya. Jenis Peraturan Perundang-undangan selain yang sebagaimana dimaksud pada ayat 1, diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi Pasal 7 ayat 4. Menurut Pasal 7 ayat 5 Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 bahwa, kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 ayat 1. 4. Hak Uji Undang-Undang Istilah âhak ujiâ menurut Kamus Hukum Belanda-Indonesia âFockema Andreaeâadalah âtoetsingâ berarti âpengujianâ atau âpenilaianâ atau artinya menguji atau menilai suatu perbuatan apakah sesuai dengan norma norma yang lebih tinggi. Istilah âtoetsingsrechtâ Belanda adalah kependekan dari ârechterlijk toetsingsrechtâ artinya hak menguji atau hak menilai atau meneliti oleh hakim, apakah undang-undang bertentangan atau tidak dengan undang-undang dasar grondwet. Keberadaan âhak uji undang-undangâ oleh hakim terhadap undang-undang yang lebih tinggi atau toetsingsrecht Belanda atau judicial review Inggris ini berkaitan dengan adanya asas âundang-undang tidak dapat diganggu gugatâ onschendbaar. Artinya undang-undang tidak boleh diuji atau dinilai oleh siapapun termasuk oleh hakim. Pengujian oleh hakim diperbolehkan apabila diatur oleh undang-undang atau kostitusi. Menurut teori hukum, ada dua macam hak menguji undang-undang toetsingsrecht atau judicial review oleh hakim, yaitu pertama, hak menguji undang-undang secara formal formele toetsingsrecht atau formal judicial review; kedua, hak menguji undang-undang secara material materiele toetsingsrecht atau materiel judicial review. Hak Uji Formal formele toetsingsrecht adalah wewenang untuk menilai, apakah suatu produk legislatif seperti undang-undang misalnya terjelma melalui cara-cara prosedur sebagaimana telah ditentukan/diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak. Hak Uji Material materiele toetsingsrecht adalah suatu wewenang untuk menyelidiki dan kemudian menilai, apakah suatu peraturan perundang-udangan isinya sesuai atau bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya, serta apakah suatu kekuasaan tertentu verordenende macht berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu. Definisi dari Sri Sumantri tersebut dapat disimpulkan atau sebagai pendapat penulis adalah Hak Uji Formal Undang-Undang formele toetsingsrecht atau formal judicial review adalah kewenangan hakim untuk menguji atau menilai apakah suatu undang-undang prosedur pembentukannya sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Prosedur pembentukan peraturan perundang-undangan adalah mencakup kewenangan yang membuat peraturan perundang-undangan, prosedur atau cara pembuatannya dan pengundangannya. Hak Uji Material Undang-Undang materiele toetsingsrecht atau materiel judicial review adalah kewengan hakim untuk menguji atau menilai undang-undang apakah isinya bertentangan atau tidak dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Isi suatu undang-undang mencakup materi norma dalam ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang. Soepomo dalam bukunya âSistem Hukum di Indonesia Sebelum Perang Dunia IIâ menyatakan, bahwa âHakim menurut hukum tata negara âHindia Belandaâ berhak dan berkewajiban menguji apakah pengundangan dari undang-undang dan peraturan-praturan yang lain adalah sebagaimana patutnya formele toetsingsrechtâ. Menurut Mohamad Isnaini, bahwa âHakim mempunyai wewenang sepenuhnya, bahkan sebelum Hakim menerapkan suatu peraturan, wajib mengetahui dengan pasti, apakah peraturan yang ia hadapi sesuai dengan keadaan lahirya, telah diundangkan sebagaimana mestinya, apakah sudah mulai berlaku atau masih mempunyai kekuatan berlakuâ. a. Hak Uji Undang-Undang oleh Mahkamah Agung Undang-Undang Dasar 1945 sebelum diamandemen diubah/direvisi tidak mengatur hak uji peraturan-perundang-undangan. Tetapi setelah UUD 1945 diamandemen, hak uji peraturan perundang-undangan diatur di dalam Pasal 24A dan Pasal 24C UUD 1945. Berdasarkan Pasal 24A dan Pasal 24 C UUD 1945, kemudian dikeluarkan atau diberlakukan Undang-undang No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi UUMK, dan Undang-undang No. 4 Tahun 2004 yang kemudian diubah menjadi Undang-undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman UUKK, serta Undang-undang No. 5 Tahun 2004 yang kemudian diubah menjadi Undang-undang No. 3 Tahun 2009 Tentang Mahkamah Agung UUMA. Pasal 11 ayat 2 huruf b. UUKK jo, Pasal 31 ayat 1 UUMA mengatur kewenangan Mahkamah Agung melakukan âhak ujiâ peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Selanjutnya dalam Pasal 31 ayat 2 UUMA ditentukan bahwa Mahkamah Agung menyatakan tidak sah peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang atas alasan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, atau pembentukannya tidak memenuhi ketentuan yang berlaku. Dari Pasal 31 ayat 2 UUMA dapat diketahui bahwa Mahkamah Agung mempunyai kewenangan hak uji undang-undang judicial review baik hak uji material maupun hak uji formal. Hak uji material peraturan perundang-undangan oleh Mahkamah Agung adalah kewenangan Mahkamah Agung menguji atau menilai muatan materi dalam ayat, pasal, dan/atau bagian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang jika bertentangan dengan undang-undang. Dengan kata lain âhak uji materialâ oleh Mahkamah Agung, adalah kewenangan Mahkamah Agung menguji atau menilai peraturan peraundang-undangan di bawah undang-undang apakah isinya bertentangan atau tidak dengan undang-undang. Selain melakukan hak uji material, Mahkamah Agung berwenang pula melakukan âhak uji formalâ yaitu kewenangan Mahkamah Agung menguji atau menilai prosedur dan kewenangan pembentukan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang, apakah memenuhi atau tidak dengan ketentuan pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kata lain hak uji formal peraturan perundang-undangan oleh Mahkamah Agung adalah kewenangan Mahkamah Agung menguji atau menilai apakah pembentukan peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang bertentangan atau tidak dengan ketentuan yang berlaku. Hak uji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang yang dilakukan oleh Mahkamah Agung dapat dimohonkan atau diajukan pada tingkat kasasi atau dengan permohonan langsung kepada Mahkamah Agung. Putusan mengenai tidak sahnya peraturan perundang-undangan sebagaimana yang dimaksud pada pasal 31 ayat 2 UUMA dapat diambil pada pemeriksaan di tingkat kasasi maupun berdasarkan permohonan langsung kepada Mahkamah Agung Pasal 31 ayat 3 UUMA. Peraturan perundang-undangan yang dinyatakan tidak sah sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 ayat 3 UUMA tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Putusan MA yang amar putusannya menyatakan tidak sahnya suatu peraturan perundang-undangan wajib dimuat dalam Berita Negara Indonesia dalam jangka waktu paling lambat 30 tiga puluh hari kerja sejak putusan diucapkan Pasal 31 ayat 5 UUMA. b. Hak Uji Undang-Undang oleh Mahkamah Konstitusi Sejak UUD 1945 diamandemen ketiga, keberadaan dan kewenangan Mahkamah Konstitusi diatur dalam Pasal 24 ayat 2 jo Pasal 24C UUD 1945. Sebelum diamandemen, UUD 1945 tidak mengatur hak uji undang-undang dan Mahkamah Konsitusi. Di dalam Pasal 24C ayat 1 UUD 1945 disebutkan bahwa Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan menguji undang-undang terhadap UUD 1945. Pasal 24C UUD 1945 ini kemudian diatur lebih lanjut di dalam Pasal 12 ayat 1 huruf a. Undang-undang No. 4 Tahun 2004 yang kemudian diubah menjadi Undang-undang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman UUKK dan di dalam Pasal 10 ayat 1 Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi UUMK. Dalam Pasal 12 ayat 1 huruf a. UUKK menentukan bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk âmenguji undang-undang terhadap UUD 1945â. Demikian pula di dalam Pasal 10 ayat 1 huruf a. UU. No 24 Tahun 2003 UUMK menentukan bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk âmenguji undang-undang terhadap UUD 1945â. Selanjutnya di dalam Pasal 51 ayat 3 UUMK ditentukan bahwa pemohon hak uji wajib menguraikan dengan jelas mengenai âpembentukan undang-undangâ yang tidak memenuhi ketentuan UUD 1945, dan âmateri muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagianâ undang-undang yang bertentangan dengan UUD RI 1945. Selain diatur dalam Pasal 51 ayat 3, menurut Pasal 56 jo Pasal 57 ayat 1 dan 2 UUMK, Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan melakukan hak uji undang-undang terhadap UUD 1945, baik mengenai materi muatan ayat, pasal dan/atau bagian undang-undang maupun pembentukannya apabila bertentangan dengan UUD RI 1945. Dari ketentuan Pasal 24C UUD 1945, jo. Pasal 12 ayat 1 UUKK jo. Pasal 10 ayat 1 jo. Pasal 51 ayat 3 jo. Pasal 56 jo. Pasal 57 ayat 1 dan 2 UUMK tersebut dapat diketahui bahwa Mahkamah Konstitusi mempunyai kewenangan melakukan hak uji undang-undang terhadap UUD 1945 atau yang dikenal dengan âpengujian konstitusionalâ constitutional review. Kewenangan uji undang-undang terhadap UUD 1945 constitutional review oleh Mahkamah Konstitusi, penulis membedakan ada 2 dua macam yaitu hak uji material materiel constitutional review dan hak uji formal formal constitutional review. Hak uji material materiel constitutional review oleh Mahkamah Konstitusi, adalah kewenangan Mahkamah Konsitusi menguji atau menilai materi muatan dalam ayat, pasal, dan/atau bagian undang-undang jika bertentangan dengan UUD RI 1945. Dengan kata lain adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi menguji atau menilai undang-undang, apakah isinya bertentangan ataukah tidak dengan UUD RI 1945. Adapun hak uji formal formal constitutional review, artinya adalah kewenangan Mahkamah Konstitusi menguji atau menilai prosedur dan kewenangan pembentukan undang-undang, apakah memenuhi atau tidak menurut ketentuan pembentukan berdasarkan UUD RI 1945. Dengan kata lain adalah kewenangan hakim Mahakamah Konstitusi menguji atau menilai, apakah pembuatan atau pembentukan undang-undang sesuai atau tidak dengan ketentuan UUD RI 1945. Putusan Mahkamah Konstitusi memperoleh kekuatan hukum tetap, sah dan mengikat sejak selesai diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum Pasal 28 ayat 5 dan 6 jo Pasal 47 UUMK. Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan wajib dimuat dalam Berita Negara dalam jangka waktu paling lambat 30 tiga puluh hari kerja sejak putusan diucapkan Pasal 57 ayat 3 UUMK. Undang-undang yang diuji material maupun formal oleh Mahkamah Konstitusi tetap berlaku, sebelum ada putusan yang menyatakan bahwa undang-undang tersebut bertentangan dengan UUD RI 1945 Pasal 58 UUMK. Dengan demikian menurut UUD 1945, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, dan Undang Undang Mahkamah Konstitusi, bahwa Mahkamah Konstitusi berwenang melakukan uji undang-undang terhadap UUD constitutional review. Constitutional review merupakan bagian âjudicial reviewâ apabila dilakukan oleh hakim atau lembaga pengadilan atau âjudicialâ judiciary. Jika constitutional review tidak dilakukan oleh hakim atau lembaga judicial judiciary, maka constitutional review tidak dapat disebut âjudicial reviewâ. Pengertian âjudicial reviewâ atau âtoetsingsrechtâ lebih luas daripada âconstitutional reviewâ. Judicial Review atau âtoetsingsrechtâ mencakup âconstitutional review dan hak uji terhadap seluruh peraturan perundang-undangan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau dengan UUD dengan syarat hak uji dilakukan oleh hakim atau lembaga pengadilan judiciary. Apabila hak uji peraturan perundang-undangan tidak dilakukan oleh hakim atau lembaga pengadilan, maka tidak dapat disebut âjudicial reviewâ, bisa saja disebut âlegislative reviewâ apabila hak uji dilakukan oleh lembaga legislative; atau disebut âexecutive reviewâ apabila hak uji dilakukan oleh lembaga eksekutif. Demikian pula jika pengujian peraturan perundang-undangan bersifat âa prioryâ misalnya pengujian terhadap rancangan peraturan perundang-undangan yang sudah disyahkan tetapi belum diundangkan, disebut âjudicial previewâ. Jika yang dimohonkan pengujian adalah rancangan undang-undang dan bertentangan dengan UUD disebut âconstitutional previewâ. Mengenai istilah atau pengertian hak uji atau âtoetsingsrechtâ bahasa Belanda ini, oleh Jimly Asshiddiqie dibedakan antara âtoetsingsrechtâ, âjudicial reviewâ, âjuicial previewâ, âlegislative reviewâ, âexecutive reviewâ, âconstitutional reviewâ. Menurut Jimly, hak atau kewenangan menguji atau hak menguji atau hak uji dalam bahasa Belandanya disebut âtoetsingsrechtâ. Jika hak uji toetsingsrecht itu diberikan kepada hakim, maka namanya adalah âjudicial reviewâ atau review oleh lembaga peradilan. Jika kewenangan menguji diberikan kepada lembaga legislative, maka namanya bukan âjudicial reviewâ melainkan âlegislative reviewâ. Jika yang melakukan pengujian itu adalah pemerintah, maka namanya tidak lain adalah âexecutive reviewâ, bukan âjudicial reviewâ. Jika pengujian dilakukan terhadap norma hukum yang bersifat abstrak dan umum general and abstract norms secara âa posterioriâ, maka pengujian dapat disebut sebagai âjudicial reviewâ, tetapi jika pengujian itu bersifat âa prioriâ yaitu terhadap rancangan undang-undang yang telah disahkan oleh parlemen tetapi belum diundangkan sebagaimana mestinya, maka namanya bukan âjudicial reviewâ, melainkan âjudicial previewâ. Jika ukuran pengujian itu dilakukan dengan menggunakanâkonstitusiâ sebagai alat pengukur, maka pengujian semacam itu disebut seagai âconstitutional reviewâ atau pengujian konstitusional, yaitu pengujian mengenai konstitusionalitas dari norma hukum yang sedang diuji judicial review on the constitutionality of law. Masih menurut Jimly Asshiddiqie, apabila norma yang diuji itu menggunakan âundang-undangâ sebagai batu ujinya maksudnya alat pengukur, seperti hak uji yang dilakukan oleh Mahakamah Agung berdasarkan Pasal 24A ayat 1 UUD 1945 berwenang menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang, maka pengujian itu tidak dapat disebut âconstitutional reviewâ, melainkanâjudicial review on the legality of regulationâ. Dari uraian di muka dapat disimpulkan bahwa menurut hukum positif Indonesia UUD 1945, Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Mahakamah Konstitusi, dan Undang-Undang Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi berwenang menguji undang-undang terhadap UUD 1945 constitutional review, dan Mahkamah Agung berwenang menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang judicial review atau toetsingsrecht. Bibliografi Umar Said Sugiharto, 2009, Pengantar Hukum Indonesia. Malang Publikasi Online. Sri Sumantri. 1982. Hak Uji Materiil di Indonesia. Bandung Alumni. R. Soepomo. 1983. Sistem Hukum di Indonesia sebelum Perang Dunia II. Jakarta Pradnya Paramita. Mohamad Hakim dan Undang-Undang. Cet, II. Semarang IKAHI Cabang Semarang. Jimly Asshiddiqie, 2005. Hukum Acara Pengujian Undang-Undang. Jakarta Pusat Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. rr3I.